Kooonyaaa

Keyakinan Akan Kesehatan Orang-Orang Jepang

Keyakinan Akan Kesehatan Orang-Orang Jepang – Kebiasaan tradisional Jepang mengenai kesehatan dan perawatan kesehatan sangat berbeda dari adat istiadat medis orang Barat. Konsep “hazukashii” atau rasa malu, terkait dengan semua aspek kehidupan Jepang: keluarga, bisnis, dan kesehatan. Sangat penting ditempatkan pada pencapaian kesuksesan dan menjaga kesehatan dan ikatan keluarga dekat. Kesehatan yang buruk bisa menjadi pengalaman yang sangat memalukan bagi orang Jepang dan perhatian besar diambil untuk mendekati pasien dan keluarga pasien tentang penyakit dengan cara yang tidak bercacat dan tidak langsung. Misalnya, konsep “shikata ga nai” yang berarti “tidak bisa ditolong” sering digunakan untuk menjelaskan suatu kasus penyakit terminal.

Shintoisme dan Buddha

Pendekatan Jepang untuk kesehatan dan perawatan kesehatan sebagian besar berasal dari keyakinan agama dan filosofis. Agama yang dominan di Jepang adalah Shintoisme dan Buddha dan sebagian besar orang Jepang percaya pada keduanya. Shintoisme adalah agama kuno yang didasarkan pada kepercayaan bahwa para dewa diwakili di lingkungan alam seperti sungai, pohon, dan gunung dengan kuil yang dibangun untuk menghormati dewa-dewa ini. Salah satu cara paling penting untuk menunjukkan rasa hormat kepada para dewa saat memasuki kuil adalah dengan mencuci tangan. Kebersihan mirip dengan kemurnian spiritual. Menurut Shintoisme, penyakit dan penyakit dianggap najis dan tidak murni. Buddhisme, bagaimanapun, memperlakukan penuaan dan penyakit sebagai proses alami dan banyak orang Jepang memeluk Buddhisme di kemudian hari. Perawatan akhir hidup dan ritual pemakaman sering dilakukan menurut kepercayaan Buddhis di Jepang.

Konfusianisme dan Kesalehan Anak

Tertanam dalam Konfusianisme adalah kode etik yang mendikte tatanan keluarga dan sosial di Jepang. Salah satu prinsip Khonghucu adalah sebuah konsep yang disebut “bakti” di mana menjadi kewajiban anak-anak untuk merawat orang tua di hari tua mereka. Oleh karena itu, diharapkan anak berperan penting dalam merawat orang tua yang jatuh sakit dan dianggap memalukan bagi keluarga jika orang tua ditempatkan di panti asuhan.

Bentuk Tradisional Pengobatan Jepang

Penyembuhan tradisional Jepang menggunakan berbagai bentuk pengobatan dari Barat. Meskipun saat ini pengobatan Barat dipraktikkan secara luas di Jepang, kombinasi pengobatan tradisional dan Barat adalah hal yang umum. Orang Jepang percaya bahwa banyak penyakit berasal dari gangguan aliran Qi, yang diterjemahkan secara kasar menjadi “energi”. Kampo adalah bentuk penyembuhan yang sangat populer yang menggunakan ramuan obat untuk mengembalikan aliran Qi. Terapi tradisional Jepang lainnya adalah pijat Shiatsu di mana tekanan diterapkan pada titik-titik tertentu pada tubuh, juga dengan tujuan memulihkan Qi. Akupunktur juga dipraktekkan dengan memasukkan jarum ke titik-titik tertentu dari tubuh untuk melepaskan racun dan untuk menghilangkan rasa sakit.

Koneksi Pikiran-Tubuh dan Transplantasi Jantung

Orang Jepang percaya pada koneksi pikiran-tubuh yang integral. Gagasan menyatakan orang mati otak yang jantungnya masih berdetak adalah konsep yang sangat kontradiktif dengan orang Jepang. Orang Jepang percaya bahwa roh, yang disebut “kokoro”, terletak di dada. Ketika Barat mulai mempraktekkan transplantasi jantung dengan mengambil hati dari donor mati otak, Jepang menolak praktek tersebut karena berpotensi mengganggu pusat spiritual donor. Seorang dokter Jepang bahkan ditangkap pada tahun 1968 karena melakukan operasi jantung dan selama lebih dari 30 tahun, praktik tersebut dilarang di Jepang. Praktek medis Barat perlahan-lahan mulai mempengaruhi Jepang dan pada akhir 1990-an donor jantung dari donor mati otak disahkan.